Teriknya matahari dan cerahnya
udara justru membuat gemas para tamu untuk kembali menyelam dan menyelam.
Cahaya matahari kerap menembus celah-celah gelombang laut sampai ke karang.
Keelokan pemandangan dan biota lautnya memang membuat kesan mendalam bagi para
wisatawan. Bagi pencinta wisata pesisir dan bawah air yang fanatik, Raja Ampat
sangat dikenal bahkan dinilai terbaik di dunia untuk kualitas terumbu
karangnya.
Banyak fotografer bawah laut
internasional mengabadikan pesona laut Raja Ampat. Bahkan ada yang datang
berulang kali dan membuat buku khusus tentang keindahan terumbu karang dan
biota laut kawasan ini. Pertengahan 2006 lalu, tim khusus dari majalah
petualangan ilmiah terkemuka dunia, National Geographic, membuat liputan di
Raja Ampat yang akan menjadi laporan utama pada 2007.
Sejumlah turis tampak asyik bersantap dan mengobrol santai sambil memandang lepas ke arah laut yang didominasi warna biru, hijau, dan putih. Warna-warna itu muncul karena pengaruh dari hamparan terumbu karang di dasar laut yang dangkal maupun dalam. Mereka sedang menikmati makan siang di Papua Diving Resort, perairan f Irian Jaya Barat.
SUNSET YANG EKSOTIS
Papua Diving, satu-satunya
resor eksotis yang menawarkan wisata bawah laut di kawasan itu, didatangi
turis-turis penggemar selam yang betah selama berhari-hari bahkan hingga
sebulan penuh mengarungi lekuk-lekuk dasar laut. Mereka seakan tak ingin
kembali ke negeri masing-masing karena sudah mendapatkan “pulau surga yang tak
ada duanya di bumi ini”.
Pengelolanya tak gampang
mempersiapkan tempat bagi wisatawan. Maximillian J Ammer, warga negara Belanda
pemilik Papua Diving Resort yang juga pionir penggerak wisata laut kawasan ini,
harus mati-matian menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari
mancanegara. Sejak memulai usahanya delapan tahun lalu, banyak dana harus
dikeluarkan. Namun, hasilnya juga memuaskan. Setiap tahun resor ini dikunjungi
minimal 600 turis spesial yang menghabiskan waktu rata-rata dua pekan.
Penginapan sangat sederhana
yang hanya berdinding serta beratap anyaman daun kelapa itu bertarif minimal 75
euro atau Rp 900.000 semalam. Jika ingin menyelam harus membayar 30 euro atau
sekitar Rp 360.000 sekali menyelam pada satu lokasi tertentu. Kebanyakan
wisatawan datang dari Eropa. Hanya beberapa wisatawan asal Indonesia yang
menginap dan menyelam di sana.
“Turis menyelam hampir setiap
hari karena lokasi penyelaman sangat luas dan beragam. Keindahan terumbu
karangnya memang bervariasi sehingga banyak pilihan dan mengundang penasaran.
Ada turis yang sudah berusia 80 tahun masih kuat menyelam,” tutur Max Ammer
yang beristrikan perempuan Manado.
Tiga tahun lalu, Papua Diving
membangun penginapan modern tak jauh dari lokasi pertama. Ternyata, penginapan
yang dibangun dengan mengandalkan bahan bangunan lokal ini hampir selalu penuh
dipesan. Padahal tarifnya mencapai 225 euro atau sekitar Rp 2,7 juta per malam.
Di lokasi yang baru, dilengkapi peralatan modern, termasuk fasilitas telepon
internasional dan internet.
Turis ke Raja Ampat hanya ingin
ke Papua Diving di Pulau Mansuar karena fasilitas dan pelayannya sudah
berstandar internasional, juga makanannya. Mereka mendarat di Bandara Domne
Eduard Osok, Sorong, langsung menuju lokasi dengan kapal cepat berkapasitas
sekitar 10 orang yang tarifnya Rp 3,2 juta sekali jalan. Perlu waktu sekitar
3-4 jam untuk mencapai Mansuar.
Seperti pulau lainnya, Mansuar
tampak asri karena hutannya masih terjaga dan air lautnya pun bersih sehingga
biota laut yang tidak jauh dari permukaan bisa terlihat jelas. Turis cukup
berenang atau ber-snorkelling untuk melihat keindahan laut, sedangkan jika
ingin mengamati langsung kecantikan biota laut di kedalaman, mereka harus
menyelam.
SUMBER REFERENSI :
Papua Diving, satu-satunya
resor eksotis yang menawarkan wisata bawah laut di kawasan itu, didatangi
turis-turis penggemar selam yang betah selama berhari-hari bahkan hingga
sebulan penuh mengarungi lekuk-lekuk dasar laut. Mereka seakan tak ingin
kembali ke negeri masing-masing karena sudah mendapatkan “pulau surga yang tak
ada duanya di bumi ini”.
0 komentar:
Posting Komentar